Tampilkan postingan dengan label reflection. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label reflection. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 November 2011

Cinta Itu...

Habibie, semenjak kepergian istrinya murung dalam kesunyian. Cintanya pada Ainun membuatnya sulit untuk melupakan sosok wanita itu, bahkan untuk sedetik saja. Empat puluh delapan tahun sudah mereka bersama dalam hidup yang penuh dengan cinta dan kasih sayang, yang dalam. Kesetiaan untuk tetap terpaut satu sama lain menancap kuat di hati masing-masing. Hingga akhir hayat sang istri, mereka masih manunggal dalam kesucian akan makna cinta itu sendiri.

Buku Habibie&Ainun karya Bacharuddin Jusuf Habibie adalah buku yang telah mengajari saya banyak hal, khususnya tentang cinta. Dirilis pasca kematian istrinya, ibu Ainun, Habibie menuangkan seluruh memori yang Ia miliki selama hidup dalam kebahagiaan bersama keluarganya, terutama sang istri. Mulai dari pandangan pertama yang telah membuat lulusan RWTH Aachen ini berjuang mendapatkan Ibu Ainun, menikah dan hijrah ke Jerman untuk menyelesaikan studinya di sana, hingga kerepotan sang mantan presiden di awal-awal merintis karier ketika Ia dihadapkan oleh kesulitan finansial. 

Nasib berkata lain. Hidup di Jerman yang sedikit demi sedikit mulai mapan dan menjanjikan, namun panggilan membangun negeri membuat Habibie harus memilih dua hal penting, independen di Jerman sebagai profesional atau menjadi menteri untuk membangun tanah airnya sendiri. Jelas Ia gamang. Namun karena nasionalismenya yang kuat, Habibie pun siap pulang ke Indonesia membawa segepuk perubahan untuk bangsanya.

Masalah cinta, ini hal yang utama dalam buku ini. Habibie adalah sosok yang romantis menurut saya, banyak puisi-puisi yang Ia buat untuk melukiskan betapa indah kehidupannya setelah bertemu dengan gadis calon dokter tersebut. Ya, Habibie memaknai cinta bukan sebagai nafsu sesaat. Ia sangat dewasa dalam mengartikannya. Cinta yang Ia rasakan adalah bagian dari anugerah Tuhan, maka setiap saat Ia selalu bersyukur diberi anugerah terindah tersebut. Cinta yang mereka pelihara selalu dipupuk oleh rasa saling mengerti. Sekali lagi, mereka direkatkan oleh cinta yang murni, suci, sejati, sempurna dan abadi.

Hingga kematian sang Istri, Habibie masih merasakan kehadirannya di setiap sudut yang Ia lihat. Mereka manunggal jiwa, roh, batin dan nurani. Dan mereka telah membuktikan, ada cinta sejati yang lahir di abad ini. Semoga kita bisa mencontoh roman percintaan Romeo dan Juliet ini.

Bahwa kematian itu hanyalah gerbang menuju kesempurnaan yang abadi, yang setiap orang akan lewati meninggalkan seberkas cinta di dunia. Cepat atau lambat, itu pasti terjadi.


Buku : Habibie&Ainun
Penulis : Bacharuddin Jusuf Habibie
Tahun : 2010
Penerbit : PT. THC Mandiri


Senin, 31 Oktober 2011

Film Review "Alangkah Lucunya Negeri Ini" (Jangan tertawa. Tertawa itu dilarang!)


Beberapa kali saya menonton film Indonesia dengan promosi besar-besaran dan (katanya) memuat nilai kehidupan, belum pernah saya sebegitu terdiamnya melihat gambaran yang benar-benar dekat dengan batas realita bangsa ini. Meskipun ini ‘hanya’ sebuah tugas, atau bisa dikatakan pemaksaan, tapi saya rasa film ini perlu disebarluarkan kepada siapa saja, yang menganggap dirinya sebagai bangsa Indonesia. 
Biasanya, begitu film yang saya lihat selesai, saya langsung bisa menyimpulkan ‘Ini film lebay’ atau ‘Yah, ujung-ujungnya gini juga, kalo nggak pornoaksi ya plagiator film luar negeri’. Tapi yang saya rasakan setelah 2 kali melihat film ini, ‘Yang ini, 2 acungan jempol!’. Luar biasa. 

Film garapan om Dedy Miswar, sosok sutradara yang melegenda dalam dunia perfilman Indonesia, mengambil perspektif yang berbeda dengan bangsa ini. Biasanya, dalam film lain kita selalu dibangga-banggakan sebagai bangsa yang bermartabat, implikasinya kita adalah bangsa yang sengsara dan selalu terinjak-injak. Tapi ini lain. Di film ini, disuguhkan fenomena dari kaum urban di Jakarta yang entah mengapa berindikasi negatif. Film ini sangat mencerminkan kaum yang selama ini tersisihkan dari perhatian pemerintah, yang selalu mengais rezeki di jalanan, berkeliaran, ditambah lagi dengan aksi kriminalitasnya yang cukup beralasan, yaitu ‘kesulitan secara finansial’. Entah ini patut dimaklumi atau tidak, tergantung pembaca sekalian. 

Om Dedy sepertinya begitu sensitive terhadap lingkungan sekitarnya. Mengangkat tema anak-anak jalanan yang buta huruf dalam usia yang masih muda dan produktif, hidupnya dicengkeram oleh sang Bandar, basis pendidikan yang sangat minim (yang mengejutkan, mereka bahkan tidak bisa menggunakan pensil saat akan menulis dengan benar), kasih sayang serta perhatian dari orang tua pun rasa-rasanya tidak ada. Memelas? Sangat. 

Sebagai actor utama, Reza Rahardian sebagai Muluk, seorang S1 Manajemen yang masih berpontang-panting mencari kesempatan untuk bekerja. Bermula dari pertemuan tidak sengaja di sebuah pasar di sudut kota Jakarta, Muluk melihat sebegitu jelasnya bagaimana anak-anak umur 10 tahunan yang seharusnya sedang mengenyam bangku sekolah, justru berkeliaran di pasar kumur seperti itu untuk mencopet. Ya, mereka adalah tim yang solid, bekerja dengan sistematis dan cerdik, namun untuk masalah mencopet. Memperihatinkan.

Nasib berkata lain. Muluk yang tidak percaya dengan kejadian tersebut, malah bertemu lagi dengan para pencopet cilik. Salah satu pencopet cilik, Komet malah mengajaknya untuk bergabung di markas, sebuah tempat untuk berkumpul dengan pencopet lainnya, saling menyetor hasil copetan, istirahat, dan bertemu dengan Jarot, bos para pencopet tersebut. Dengan niat yang baik untuk memperbaiki nasib para pencopet cilik, Muluk justru memiliki ide yang diluar dugaan. Bekerja sama dengan para pencopet dalam pengelolaan hasil copetan. Sebagai imbalan, Muluk meminta 10%. Mereka akhirnya bersepakat. Hal-hal lucu dan tidak terduga mewarnai adegan-adegan dalam film ini. Bisa dibuktikan!

Kejar setoran menjadi aktivitas sehari-hari bagi kaum ini. Mereka hanya menjalani rutinitas 'bergerilya' dari satu pasar ke pasar lainnya, lagi-lagi untuk mencari mangsa. Apalagi motivasi dari Muluk yang sangat dijiwai oleh anak-anak tersebut, menambah semangat kerja keras. Ketika disinggung masalah pendidikan, mereka dengan lantang menolak untuk kembali berguru di bangku sekolah. Mereka sudah malas dan merasa nyaman dengan kehidupannya sekarang. Nasib serupa juga dialami Samsul, seorang sarjana pendidikan yang setiap harinya hanya bergulat dengan kartu di pos ronda. Untuk seorang sarjana pun, melakukan sebuah usaha rasa-rasanya masih perlu pikir panjang. Apa yang terjadi, wahai kaum cendekia?

Poin penting dari fenomena tersebut adalah budaya bangsa kita yang terlalu menerima dan berpasrah pada nasib. Mereka mudah lelah untuk berusaha, yang pada akhirnya kebiasaan itu akan mendarah daging dan dicontoh oleh anak-anaknya. Mereka sama sekali tidak memberdayakan power yang sesungguhnya mereka miliki untuk bergerak, karena ya itu tadi. Mereka menganggap dirinya sendiri lemah. Jika sudah memiliki pikiran seperti itu, pekerjaan kecilpun akan dirasa susah. Lalu bagaimana dengan membuat langkah besar?


Kita adalah apa yang kita pikirkan. Sepertinya pantas dianalogikan dengan keputusan Muluk untuk menolak tawaran pekerjaan sebagai TKI di luar negeri dengan alasan yang tidak rasional. Yaitu bayangan hukum cambuk melayang-layang di pikirannya, cukup membuat Muluk menjadi pecundang besar. Cukup miris memang. Seorang sarjana yang notabene kaum dengan intelektualitas tinggi, gentar dengan pikiran sempit dan ketakutan yang tidak beralasan. Seharusnya, Muluk tidak menjadi pecundang yang takut hanya dengan bayangan ‘hukum cambuk’ di benaknya, padahal kesempatan besar menghampirinya.

Refleksi dari film ini banyak sekali. Yaitu ada sisi yang belum terjamah oleh publik dan pemerintah terhadap keberlangsungan kehidupan para masyarakat 'pra-sejahtera', khususnya anak-anak. Mereka yang hidupnya terlantar karena menjadi korban dari kerasnya kehidupan perkotaan, sekaligus menjadi korban politik pemerintahaan yang sering ingkar janji. Pendidikan menjadi salah satu tolak ukur tingkat kualitas suatu bangsa. Namun apa yang terjadi, banyak ditemui, khususnya dalam film tersebut, untuk memgang pensil pun mereka masih belum menguasainya. Dimana tanggung jawabmu, Pemerintah?


Pikiran yang mencipta, pikiran pula yang menentukan. Jika kita mengkonsep diri kita sebagai pribadi yang lemah dan tidak tahan banting, maka itu adalah sebuah pengakuan dan selayaknya patut terjadi. Mereka yang bernasib kurang beruntung, hanya bisa berpasrah, tanpa sedikitpun bergeming dari zona yang mereka anggap nyaman, padahal jelas sekali itu membahayakan masa depan mereka. Selain itu, dengan pikiran yang sempit maka itulah yang akan membatasi kreativitas dan cita-cita kita sesungguhnya. Budaya melihat sesuatu hanya dari satu sisi saja sepertinya telah mendarah daging di kehidupan bangsa ini. Sepatutnya kita melihat sebuah fenomena dari berbagai sisi dan berpikir ke arah masa depan.

Lingkungan adalah sumber dari pengaruh yang terjadi dalam hidup kita. Jika kita bisa memilih lingkungan atau pergaulan yang baik, maka kita akan menjadi pribadi yang baik. Sebaliknya, ketika kita salah memilih, nikmati saja kesalahan tersebut.

Paling tidak, film ini adalah refleksi bangsa kita dengan budaya yang telah porak-poranda. Kritik sosial hadir dalam film ini dengan menyinggung masalah kehidupan masyarakat pra-sejahtera yang tercabut hak-haknya karena pola pikir yang sempit serta lingkungan yang tidak mendukung mereka untuk maju, menembus impian dan cita-cita yang seharunya bisa mereka lalui. Inikah wajah bangsamu, Indonesia? Apakah kau tak malu lalu sadar diri?

Minggu, 30 Oktober 2011

Pemuda, tunjukkan dirimu sesungguhnya : SEMANGAT BERKONTRIBUSI !

Selamat pagi, pemuda Indonesia. Sekalipun Hari Sumpah Pemuda telah kita lewati bersama-sama, namun semangat jiwa muda kita harus tetap terjaga. 
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Sumpah Pemuda yang setiap tahunnya jatuh pada tanggal 28 Oktober menjadi hari yang ditunggu-tunggu bagi bangsa ini, khususnya para pemuda-pemudi yang menjadi tulang punggung keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Tidak ada perayaan tertentu memang dalam melewati hari bersejarah itu, tapi menurut saya, secara psikis, Sumpah Pemuda bukan hanya melulu bersinggungan dengan efek sejarah yang nampaknya sangat kolosal. Ini lebih mengarah ke bentuk pengakuan pemuda-pemudi kita, yang delapan puluh tiga tahun yang lalu, terhadap janji untuk sehidup semati menjunjung tanah air kita, Indonesia. Mereka mengakui mereka adalah generasi yang akan meneruskan cita-cita leluhur bangsa untuk berpatriotisme dan berjuang sesuai bidangnya masing-masing. Lebih dari itu, kemauan mereka yang notabene berasal dari latar belakang sosial budaya yang berbeda untuk bersatu-padu menyuarakan semangat kesatuan yang bisa kita jadikan tauladan yang baik. Sumpah Pemuda telah menggelorakan kita, sebagai pemuda yang memiliki potensi besar merubah dan menjadikan bangsa ini jauh lebih baik ke depannya. Ada banyak hal yang bisa kita lakukan, besar atau kecil bukanlah jadi masalah. Kita diwarisi kemampuan yang besar untuk bisa merevolusi keterpurukan negara ini. Dengan apa?

Belajar dengan baik
Mungkin itu adalah keputusan yang tepat bagi para pemuda. Belajar di sini bukanlah sekadar dengan mengenyam bangku pendidikan, lalu puas atas prestasi yang didapat. Tidak, bukan itu saja. Belajar mengenal lingkungan dengan kemauan untuk mendengarkan, merasakan, lalu merespon dengan aksi-aksi positif terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat kita sendiri. Kita harus memiliki sensivitas lingkungan, jangan sampai kita yang katanya kaum intelek malah tutup mata, tutup kuping dan parahnya menutup hati nurani ketika rakyat menjerit dan membutuhkan bantuan kita. 

Berprestasi? Mengapa tidak!
Prestasi bukanlah melulu persoalan menang kalah, hadiah atau pujian. Prestasi adalah sebuah pencapaian yang bisa menjadikan kita sebagai insan yang lebih baik, dari hari kemarin. Ketika kita berupaya untuk berubah menjadi pribadi yang lebih matang dan bijak dalam memandang hidup, bagi saya itu adalah prestasi besar yang patut dicontoh. Jika kita menganalogikan prestasi berisi pujian, sanjungan, atau hadiah, maka ketika gagal untuk berprestasi, kita akan merasa sangat gagal dan tidak ada gunanya. Lalu apa yang terjadi? Kita akan semakin terbelakang dengan pikiran bodoh yang kita ciptakan sendiri tersebut. 

Berkontribusi bagi diri sendiri dan orang lain
Setelah kita belajar, baik itu formal atau non formal, kita harus berusaha mengamalkan ajaran yang kita dapat. Jangan sama ilmu yang kita dapatkan terbuang begitu saja. Mengendap lalu hilang karena tidak ada langkah konkrit yang kita amalkan dengan ilmu tersebut. Ini sama saja pekerjaan yang tidak berguna, belajar tapi tidak mengamalkan. Yang seharusnya kita lakukan dengan pembelajaran yang kita dapatkan tersebut adalah berkontribusi terhadap diri sendiri dan orang lain. Kontribusi terhadap diri sendiri? Misalnya dengan kemauan diri untuk berubah menjadi lebih baik dari hari ke hari. Kita bisa saja mengoreksi apa yang buruk dalam diri kita, lalu memperbaikinya. Paling tidak, kita sudah bisa berkontribusi bagi diri sendiri dengan mengubah kebiasaan buruk agar diharapkan kita menjadi manusia lebih baik.
Semangat berkontribusi kepada orang lain bisa dilakukan dengan banyak hal. Ada banyak problematika yang terjadi di sekitar kita, yang mungkin saja kita adalah kunci penyelesaiannya. Sedikitnya, kita bisa membantu mereka bila mengalami kesusahan, tentunya sesuai dengan kapasitas diri. Alangkah indahnya bila hidup yang singkat ini bisa kita jadikan penuh dengan kemanfaatan bagi orang lain, karena sesungguhnya kita diciptakan untuk saling bantu-membantu dan memberi perubahan baik kepada orang-orang di sekeliling kita. 

Kita adalah agen perubahan. Keberhasilan bangsa ini untuk bangkit dari keterpurukan ada di tangan kita. Kita adalah sumber inspirasi dan kretivitas. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk bersumbangsih terhadap masa depan negara kita. Baik berupa ide atau gebrakan yang berkualitas.
Kita adalah modal kejayaan bangsa. Potensi besar yang ada dalam diri kita menunggu untuk dipergunakan. Jangan sia-siakan karena ini adalah warisan luhur yang kita miliki untuk sebuah perubahan besar.
Kita adalah motor penggerak bangsa. Semangat untuk menjadikan bangsa ini menjadi lebih baik ada di diri kita. Kita harus kobarkan semangat ini agar semua orang bisa merasakan betapa pentingnya keberadaan kita dan mereka untuk berkontribusi kepada Indonesia tercinta.

Mari kita sejenak merefleksikan apa makna yang tersirat dari lahirnya Sumpah Pemuda yang telah mengajarkan kita banyak hal tentang kehidupan.
 

Pendidikan berkarakter? Haruskah?

Pendidikan yang berkarakter memang sedang ramai digalakkan menyusul program kerja menteri pendidikan saat ini, yaitu Pak Muhammad Nuh (dengan bangga saya sebutkan karena Beliau adalah alumni ITS). Semua instansi pemerintahan, khususnya yang bergerak dalam dunia pendidikan berlomba-lomba menyusun rencana terkait dengan penggalakan pendidikan yang berkarakter sesuai kesepakatan antar lembaga atau instansi tersebut. Pendidikan karakter yang dimaksud disini, berdasarkan artikel-artikel yang saya pakai sebagai referensi adalah :

Menurut UU no 20 tahun 2003 pasal 3 menyebutkan pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter bangsa yang bermartabat. Ada 9 pilar pendidikan berkarakter, diantaranya adalah:
  1. Cinta tuhan dan segenap ciptaannya
  2. Tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian
  3. Kejujuran /amanah dan kearifan
  4. Hormat dan santun
  5. Dermawan, suka menolong dan gotong royong/ kerjasama
  6. Percaya diri, kreatif dan bekerja keras
  7. Kepemimpinan dan keadilan
  8. Baik dan rendah hati
  9. Toleransi kedamaian dan kesatuan
Bagi saya, sembilan pilar tersebut merupakan usaha pemerintah dalam membudidayakan sifat-sifat yang selayaknya dimiliki oleh generasi muda saat ini, yang notabene mereka adalah calon pemimpin bangsa yang harus memiliki pondasi yang kuat dan berkarakter sesuai yang dicita-citakan bangsa ini. Mengapa pemerintah membuat gebrakan baru dalam dunia pendidikan kita dengan meluncurkan program 'Pendidikan Berkarakter' tersebut?

Pemerintah nampaknya sedang meniru (secara positif) atas usaha Jepang yang merupakan sebuah negara maju (padahal jika dibandingkan dengan Indonesia, Jepang kalah jauh dalam urusan sumber dayanya). Hal ini cukup beralasan bagi bangsa kita untuk mau mencontoh filosofi hidup penduduk Jepang yang terkenal dengan pekerja keras dan memiliki konsep diri yang kuat akan makna kehidupan itu sendiri. Misalnya, kenyataan bahwa hanya ada 5-10% manusia cerdas ditiap negara membuat Jepang mempersiapkan pendidikan berkarakter untuk membentuk 90% siswa-siswinya yang merupakan penduduk mayoritas. Walhasil, negara Jepang kini menjadi negara maju dan disiplin bukan karena kecerdasan semata, tetapi karakter kuat dari penduduk mayoritas yang telah digembleng dalam masa pendidikan. Inilah yang seharusnya kita contoh, meskipun kita juga harus berbeda dengan nilai-nilai yang terkandung dalam bangsa ini. Kita harus memiliki karakter diri yang kuat sesuai moral yang berkembang dalam lingkungan sosial budaya Indonesia.

Cukup miris memang, kita sebagai bangsa yang tersohor memiliki potensi besar untuk maju, malah tertinggal dengan negara kecil, meskipun tidak memungkiri kita juga memiliki kelebihan atau hal-hal yang bisa dinilai lebih baik dari mereka. Kebalikan dari negara Jepang, pendidikan di Indonesia justru menyiapkan seluruh siswa-siswi kita menjadi ahli pemikir dan ilmuwan. Sedangkan di Jepang, mereka sadar bahwa tidak semua siswa itu cerdas dan memiliki potensi yang sama. Kecerdasan bukan hanya potensi akademik, tapi ada beraneka ragam dimensi kecerdasan yang sifatnya konkrit, seperti ketrampilan, seni, olahraga dan kegiatan non akademik lainnya. Bisa kita lihat dari sedikitnya lembaga pendidikan, contohnya sekolah-sekolah yang menyediakan pelayanan terhadap anak-anak luar biasa di luar bidang akademik. Meskipun ada, itupun milik swasta yang bisa dipastikan bukan sekolah rakyat jelata. Memang faktor akademik cukup penting, namun alangkah lebih baiknya jika berkaca pada diri sendiri terhadap kemampuan apa saja yang dirasa lebih menonjol, jangan sama ratakan kemampuan generasi kita yaitu hanya bergerak di bidang akademik. Saya contohkan, di sekolah beberapa guru sering menyepelekan murid-murid yang tidak terlalu tertarik atau tidak menonjol dalam bidang akademik, namun mereka justru lebih tertarik dengan bidang non akademik lain. Guru tersebut sering memarahi dan menganggap remeh mereka. Tidak sering, menjadikan mereka bulan-bulanan atas kekesalan dan ketidakpahaman untuk apa yang disebut karunia Tuhan, yaitu anugrah yang berbeda-beda di setiap orang.

Fenomena yang menarik adalah ketika dunia pendidikan asyik menciptakan siswa-siswi cerdas dengan memberikan beban pelajaran super berat dan banyak, padahal dengan beban pelajaran yang tinggi, energi guru dan siswa terbuang percuma karena mereka sadar hanya 5 – 10 % siswa saja yang mampu mengikuti pelajaran dengan baik. Hal ini tentu menjadi bumerang bagi dunia pendidikan Indonesia karena jelas-jelas mengabaikan 90% siswa dengan kemampuan dibawah rata-rata dan dianggap tidak memiliki nilai akademis tinggi. Bahwa dikatakan bumerang karena siswa dengan nilai akademis rendah dan sedang menempati porsi terbesar di negara Indonesia, maka yang terjadi adalah pendidikan Indonesia menciptakan jurang dikotomi terhadap hak-hak pendidikan yang layak bagi 90% komunitas ini. Pantas saja, sebagian besar siswa yang termasuk bagian 90% tersebut sering menyerah terhadap keadaan yang memaksa mereka untuk mundur. Mereka merasa tidak dimanusiakan karena sesungguhnya itulah yang maksimal bisa mereka capai, namun mengapa orang lain menyalahkan atas kekurangan tersebut? Bukankah setiap orang memiliki sisi baik dan buruknya masing-masing? Ketika mereka dianggap gagal, mereka akan berhenti berharap. Lalu apa jadinya? Itu sama saja mematikan kreativitas mereka dan kemauan mereka untuk berupaya, bukan?

Mungkin dirasa terlalu 'lebay' memang, seorang mahasiswa baru yang terlalu awam dengan masalah krusial bangsa ini berani berbicara dan menyatakan fakta bangsanya sendiri. Ini sekedar opini. Opini yang selalu menyehatkan saya, karena dengan beropini saya jauh merasa lebih tenang. Khususnya opini yang diwujudkan dengan media tulisan. Semoga program Pendidikan Berkarakter bukan lagi menjadi jargon gagal. Selamat bekerja produktif teman-teman :)

Senin, 24 Oktober 2011

Berbeda? Mengapa takut?


Sering saya berpikir, mengapa manusia tidak diciptakan dengan kesamaan? Bukankah itu lebih bijak untuk membuat hati ini jauh dari kedengkian? Menjadikan kita lebih saling menghormati dan menghargai karena kita merasa sama? Lalu apa makna yang tersirat dari sebuah perbedaan?

Setiap insan akan selalu menemui berbagai macam perbedaan dalam hidup dan kehidupannya. Perbedaan itu akan selalu muncul ketika kita berusaha untuk tenggelam dalam sebuah kebersamaan. Namun di akhir cerita, kadang perbedaan itu malah menjadi jurang perpisahan. Perbedaan sering disalahkan sebagai tembok yang memenjarai kita dengan pikiran yang dangkal yang dipenuhi keegoisan dan kekufuran kita. Dunia ini penuh dengan bingkai perbedaan. Lihat saja, jutaan warna yang membuat kita menjadi lebih hidup, pink-kuning-biru-hijau-putih. Bisa dibayangkan kalau dunia seluruhnya ditutupi selimut yang bernama ‘hitam‘. Gelap dan menakutkan, betul?
Agungnya keunikan dan keragaman makhluk ciptaan Tuhan. Ciri fisik, pola pikir, tingkah laku, kebiasaan, dll. adalah wujud kecintaan Tuhan kepada hamba Nya agar mereka selalu mau untuk mengenal satu  sama lain tanpa memandang kelebihan dan kekurangannya.

Sebagai manusia biasa, sering kita merasa perbedaan sebagai gesekan yang harus dihindari. Kalau begitu, apakah kita mau mempunya wujud yang sama, tingkah laku yang sama, pola pikir yang sama? Lalu apakah yang akan membedakan kita sebagai makhluk yang memiliki derajat yang lebih tinggi diantara makhluk lainnya?

Ketika semua orang sama dan menganggap semuanya adalah pemimpin, siapa yang mau dipimpin?
Ketika semua orang sama dan menganggap dirinya adalah pandai, buat apa belajar?
Siapa yang akan menerima sedekah jika setiap orang menganggap dirinya kaya? 

Jadi kesamaan pun tidak selamanya menguntungkan. Benar kan?
Maknai perbedaan sebagai emas berharga dari sebuah nilai kebersamaan. Perbedaan itu akan membuat kita tahu apa tujuan kita diciptakan. Dan perbedaan itu akan membuat kita lebih bersyukur kepada Tuhan atas segala yang diberikan. Perbedaan jualah yang akhirnya menentukan, siapa yang memiliki derajat tertinggi dihadapan Sang Khalik, bukan fisik tapi HATI.

Karena kita SAMA, makhluk Tuhan dengan segala keagungan penciptaanNya.

Q-mark

Berkaca pada kehidupan manusia yang dipenuhi dengan ambisi dan egoisitas tinggi, Tuhan memang Maha Adil untuk memberi kita cara untuk berkesempatan menikmati hidup yang singkat ini, cukup dengan sebuah tanda tanya dalam hidup. Kita selalu bertanya-tanya apa yang akan terjadi sekarang, nanti, esok, dan selamanya. Kita tidak pernah tahu. Kita hanya diberi secuil kemampuan bertahan hidup, bermula dari tanda tanya tersebut. Sesungguhnya apa tanda tanya itu? Mengapa hanya itu?
 
Tanda tanya adalah sebuah ketidakpastian. Ia bersifat ambigu, netral, dan tidak memiliki kekuatan untuk memutus. Boleh dibilang tanda tanya itu adalah sebuah kelemahan. Pernahkah kalian mendengar, tanda tanya itu bersifat layaknya tanda seru yang identik dengan sesuatu yang pasti, jelas dan nyata? Tanda tanya bagi manusia adalah sebuah hak. Sengaja Tuhan tidak memberi kuasa penuh dalam diri kita untuk mengatur, mengubah, menentukan baik buruk nya hidup kita. Kita cuma diporsikan untuk : menunggu, mengharap, dan berharap-harap cemas. Segalanya pada manusia cukup dengan : mungkinkah, mungkinkah, mungkinkah.
 
Bisa dibayangkan, ketika Tuhan juga menganugrahkan kemampuan kepada kita untuk menentukan apa yang terjadi pada hidup. Didasari sifat manusia yang tidak pernah puas dan hanya dilingkupi nafsu semata, kita yang selalu lemah ketika dihadapkan dengan bisikan setan untuk menjerumuskan, kemampuan tersebut pastilah akan dipergunakan tidak semestinya. Kita bisa dengan mudahnya menjadikan kaya, tanpa sedikitpun berusaha. Kita bisa dengan bimsalabim menentukan ini, itu, tanpa sedikitpun berpikir apakah itu baik atau buruk di masa mendatang.  Kita bisa bertindak melebih dari Tuhan kita sendiri.
 
Terlepas dari kenyataan bahwa manusia juga memiliki sikap optimisme yang tinggi, namun sesungguhnya sikap tersebut adalah pelarian secara psikis untuk menolak sebuah pertanyaan, atau tanda tanya itu sendiri. Mereka beroptimis, berarti bersikap berbaik sangka pada Tuhan, berbaik sangka kepada tanda tanya nya, karena mereka tengah berharap sebuah kejaiban terjadi dalam dirinya. Mereka takut sebuah tanda tanya itu merebut kontrol pada diri sendiri, sehingga perasaan kalut, minder, ketakutan yang tak berkesudahan yang akhirnya akan merugikan diri mereka sendiri.
 
Dengan nasib tersebut, kita bisa memaknai hidup dengan beraneka cara. Banyak yang kita bisa lakukan dengan tanda tanya tersebut. Kita dilatih untuk bersabar dan berusaha, sebelum nantinya Tuhan berkata 'itu baik untuk kamu atau itu buruk untuk kamu'. Kita akan lebih menghidupi hidup ini dengan kesyukuran. Kita akan menjadi manusia pemimpi nomor satu, karena bermula dari mimpi itu kita akan lebih merasa hidup. Kita akan menjadi manusia pengharap, sekalipun ketidakpastian akan hadir menghadang. 
 
Ya, tanda tanya akan selalu hadir dalam setiap sisi hidup kita. Percaya Tuhan selalu berbaik hati pada kita adalah kuncinya.